Mengapa Bashar al-Assad bisa Tetap Bertahan
Alasan
mengapa pemerintahan Bashar al-Assad mampu bertahan selama ini karena
dukungan dari militer Rusia, tapi alasan utama dan sangat penting telah
mendapat dukungan dari militer Iran. Setelah perjanjian Nuklir Iran
ditanda-tangani, kini Iran sudah tidak terlalu khawatir lagi tentang
segala konskwensi dari dukungannya ini.
Dan saat ini dengan
Rusia bergabung dalam pertempuran, kekuatan untuk melindungi legalitas
pemerintah Bashar al-Assad di Syria telah berkembang sangat kuat, dan
membentuk satu kamp yang sangat kukuh. Kamp ini sekarang termasuk apa
yang pernah disebutkan sebagai “Bulan Sabit Syiah/Shiite Crescent” ,
yang merupakan berbagai kekuatan aliansi Syah Iran, yaitu Iran,
pemerintah Irak, Hizbullah di Lebanon dan pemerintah Bashar al-Assad.
Mereka
telah bergabung bersama-sama. “Bulan Sabit Syiah” membuat Arab Sunni
khawatir sejak lama apabila ini terbentuk. Jadi di masa depan situasi di
Timteng atau Asia Barat ini, pasukan Syiah yang dipimpin Iran akan
menjadi sangat stabil dan mengambil andil yang sangat besar.
“Vzglyad”
sebuah terbitan Rusia melaporkan pada 14 Oktober 2015, Rusia siap untuk
melancarkan dua ofensif diplomatik dan militer di Syria. AS telah
kehilangan inisiatif diplomatik dengan menolak untuk membahas masalah
Syria dengan delegasi yang dipimpin oleh PM Russia.
Di bawah
serangan ofensif Rusia yang luas, Barack Obama benar-benar menyerahkan
Syria kepada Rusia. Vladimir Putin menggunakan kesalahan AS di Timteng
untuk menyerang ISIS di Syria, memaksa AS untuk sementara menyerah
dengan rencananya untuk memaksa Presiden Bashar al-Assad untuk lengser,
sehingga al-Assad mendapat inisiatif kembali di wilayah ini.
Ada
para analis dan peneliti Timteng yang melihat pada 15 Oktober melihat
situasi saat itu, insiatif Rusia masih belum diambil untuk Syria dan
seluruh Timteng. Rusia berkeinginan membantu al-Assad benar-benar bisa
merebut kembali daerah yang diduduki ISIS dan oposisi akan menjadi tugas
yang sangat sulit.
Namun serangan Rusia terhadap ISIS telah
menjadi keinginan dan kepentingan beberapa negara di Timteng. Di masa
lalu Rusia tidak memiliki banyak suara di Timteng, kedua masalah Irak
dan Libya telah dikendalikan oleh AS. Tapi di masa depan situasinya
mungkin akan berubah.
Tapi apakah benar bahwa situasi Timteng
yang dipimpin AS akan berubah? “The Guardian” Inggris melaporkan pada 15
Oktober 2015, Menhan AS, Ashton Carter telah menyatakan sikap
garis-keras selama pertemuan militer pada 14 Oktober dengan mengatakan,
di Eropa Timur dan Timteng, jika Rusia menantang AS yang secara alami
mengalami kemunduran, maka “AS akan mengambil langkah-langkah yang
diperlukan untuk menekan Rusia yang akan melakukan tindakan merusak dan
merusak pengaruh, penekanan paksa dan invasi.”
Hal ini sudah
jelas tanpa ragu bahwa operasi milter Rusia ini telah menjadi pukulan
bagi rencana asli AS, dengan demikian sementara ini Bashar al-Assad
dapat bernafas legah. Jadi bisa dilihat betapa besar pengaruh tindakan
Rusia yang tiba-tiba ini untuk menggeser urutan peran AS di Timteng?
“The
Guardian” yang berbasis di Inggris menyatakan, meskipun para pejabat
dari Departemen Pertahanan AS dan Rusia telah melakukan konferensi
televideo terus menerus pada 15 Oktober, untuk membahas isu-isu protokol
keamanan untuk misi udara kedua negara yang dilakukan di Syria, dan
pada hari itu juga Carter mengatakan diskusi telah menunjukkan kemajuan,
dan diharapkan kedua belah pihak dapat segera mencapai kesepakatan.
Carter
juga menekankan, selama Rusia mencoba menggunakan “strategi sesat” di
Syria “AS tidak akan setuju bekerjasama dengan Rusia”. Dari hasil
komunikasi antara AS dan Rusia, dapat dilihat antara keduanya masih
banyak percikan.
Baru-baru ini Carter juga berusaha membujuk
sekutunya di Eropa untuk bersatu dengan AS untuk menangani Rusia. Carter
mengatakan : “Kita harus bersatu untuk mencegah agresi Rusia lebih
lanjut dan pemaksaan. Rusia bisa melakukan pengaruhnya yang signifikan
di Syria untuk membawa transisi politik dari al-Assad seperti yang kita
semua tahu merupakan solusi nyata.”
Melihat dari serangkaian
sikap AS yang telah dilakukan, tujuan langsung di Syria mesih untuk
menggulingkan pemerintahan al-Assad.
Tapi melihat dari hasilnya, berkat dari bantuan Rusia, Bashar al-Assad tidak akan mundur dalam waktu dekat ini.
AS
mungkin telah meningkatkan bantuannya kepada pasukan oposisi Syria
baru-baru ini, tetapi karena kekuatan oposisi yang terlalu tersebar, dan
bercampur dengan kekuatan ekstrimis, AS mengalami kesulitan untuk
membuat keputusan yang pasti memaksakan membantu lebih lanjut.
Situasi
sangat kebalikan dari Rusia, yang memiliki target yang sangat jelas
untuk mendukung militer Syria yang dipimpin Bashar al-Assad.
Ahli
masalah Rusia berpandangan, pada kenyataannya, untuk tingkat tertentu,
kita bisa melihat bahwa kedua negara ini belum langsung bertentangan
ketika Rusia mengambil keputusan melakukan aksi militer di Syria,
bahwasanya tindakan Rusia ini akan mempunyai pengaruh besar di wilayah
tersebut.
Tapi masalah tampaknya bukan begitu, sebenarnya ada
semacam kesepakatan diam-diam antara kedua negara ini. AS juga tahu
bahwa Rusia tidak akan mau terbenam dalam lumpur ini, dan Rusia sangat
jelas alsaannya bahwa AS telah secara aktif menarik pasukannya dari Irak
dan Afganistan sejak 2008, tidak hanya karena krisis keuangan yang
menyebabkan AS terjadi penurunan ekonomi dengan parah.Itu bukan
satu-satunya alasan.
Itu dikarenakan AS telah menyadari betul
kedua negara itu benar-benar lumpur, Rusia bahkan lebih jelas jika itu
akan tiba pada dirinya. Rusia tahu AS dalam posisi canggung seperti
sekarang ini karena sudah terperosok dalam lumpur ini.
Maka
ketika Obama menjabat jadi presiden, dia memikirkan segala cara untuk
bisa mengekstrak AS keluar dari lumpur ini untuk batas tertentu, beberpa
pejabat AS awalnya berharap operasi militer Rusia dapat
menggnatikannya. Mereka ingin melihat apakah Rusia benar-benar bisa
menarik diri kelak.
Tapi kemudian mereka (AS) melihat, mereka
pikir Putin telah melakukan yang lebih baik daripada yang telah mereka
lakukan. Hanya dalam waktu 10 hari dapat mencapai efek militer yang
lebih baik daripada yang mereka lakukan selama satu tahun lebih. Hanya
saja jika mereka memikirkan itu, mereka merasa kehilangan muka, tapi
strategi secara keseluruhan tidak berubah banyak.
Namun apa yang
membuat AS merasa nyesal adalah pemerintah Irak yang selama ini dibawah
perlindungan AS, kini mulai membahas koalisi dengan Iran dan Syria,
karena Irak merasa selama dalam dukungan AS tidak cukup bisa mengalahkan
ISIS.
Dalam beberapa hari terakhir ini, Irak telah resmi mulai
menggunakan pusat informasi kontra-terorisme yang dibangun bersama
dengan Rusia, Syria dan Iran.
Ada laporan yang menyatakan Irak
telah menggunakan informasi yang diberikan oleh pusat informasi ini
untuk mengebom ISIS, Rusia juga telah mengatakan, jika pemerintah Irak
memintanya, Rusia bersedia untuk mempertimbangkan memperluas skala
serangan udara yang juga memasukan wilayah Irak.
Apa yang
dilakukan pemerintah Irak telah menunjukkan sebagai berikut: Pemerintah
didirikan dengan dukungan dan bantuan AS, meskipun telah menerima
bantuan dari Iran . Pemerintahan sekarang terutama terdiri dari Syiah,
jika ingin benar-benar membentuk aliansi kontra-terorisme Syiah mungkin
akan merepotkan Rusia, maka hanya dibentuk aliansi kontra-terorisme
antar pemerintah.
Rusia juga berpendapat bahwa pemerintahan
al-Assad adalah pemerintahan yang sah yang bersedia untuk memerangi
teroisme, dan pemerintah Iran juga bersedia melawan terorisme, tetapi
di balik semua ini ada “pertarungan” tersembunyi antara faksi-faksi
Islam, sehingga ada resiko yang cukup besar dalam hal ini.
Dan
aliansi ini tidak akan berpengaruh dengan aliansi anti-terorisme
pimpinan AS, yang terutama terdiri dari negara-negara Sunni di kawasan
tersebut. Ini tentu tidak bisa dan jangan merubahnya. Tapi secara
keseluruhan akan memperluas pengaruh Iran di kawasan tersebut.
Pemerintah
Iran dan Irak, serta pemerintahan al-Assad di Syria, Hizbollah di
Lebanon, mereka itu semuanya dari faksi Syiah Islam. Jika kekuasaan
Sunni di Timteng sampai percaya bahwa Rusia mendukung faksi Syiah
internasional, maka Rusia mungkin akan terseret ke dalam perjuangn agama
di Timteng dan pasti tidak dapat melepaskan diri.
Akan sama
seperti yang terjadi terhadap AS sekarang. Karena itulah, sudah menjadi
rahasia umum bahwa Rusia akan membatasi operasi kontra-terorisme untuk
kerjasama antar-pemerintah. Terlepas apakah mereka itu pemerintah Sunni
atau Syiah, dan hanya bekerjasama selama mereka ingin memerangi
terorisme, Rusia tidak akan menolaknya.
Jika kita melihat pada
11 Oktober 2015, Presiden Vladimir Putin bertemu dengan Menhan Arab
Saudi untuk membahas resolusi politik untuk masalah Syria. Dengan
berkunjungnya Menhan Arab Saudi ke Rusia untuk merundingkan resolusi
politik ini, maka hal ini merupakan satu sinyal yang menandai transisi.
Mengapa
dikatakan demikian? Karena beberapa tahun yang lalu Rusia dan Tiongkok
mem-veto usulan di Dewan Keamanan PBB mengenai Syria, pada saat itu,
Arab Saudi marah. Arab Saudi berusaha meniru model penggulingan Gadhafi
Libya di Syria, dalam rangka untuk mendukung sebagian kekuatan Islam
Sunni, dan kekuasan Arab dalam menumbangkan pemerintahan Bashar al-Assad
di Syria.
Tapi itu saat ada upaya untuk menggulingkan
pemerintahan al-Assad. Kini setelah periode penyesuaian, Arab Saudi
telah benar-benar menghabiskan banyak dana di Syria dan telah mengalami
banyak kerugian dengan membayar banyak uang di Syria. Dengan Rusia yang
telah terlibat dalam pertempuran, menyebabkan Arab Saudi untuk mulai
melakukan penyesuaian kebijakannya terhadap Syria, dan mulai melakukan
penyesuaian hubungannya dengan Rusia, yang tadi menentang Rusia di
Syria. Ini suatu tren yang cukup menarik akhir-akhir ini bagi para
analis dan pengamat Timteng.
Intervensi Rusia yang kuat dalam
situasi Syria telah memaksa beberapa negara besar di Timteng untuk
malakukan penyesuai atas politik luar negerinya. Yang tadinya juga
memperhitungkan AS kekuatan sebagai aliansinya, kini berubah.
Para
pemimpin aliansi AS di Timteng seperti Israel dan Turki sudah
berkunjung ke Moskow bertemu dengan Putin sebelum Rusia terlibat di
Syria.
Bahkan Arab Saudi yang mewakili sikap garis-keras,
Menlu mereka Adel al-Jubeir dengan tegas menolak ajakan Rusia pada
akhir September 2015 untuk Komunitas Internasional begabung dengan
pemerintah Syria dalam melawan ISIS bersama-sama, bahkan menyatakan
bahwa Presiden Al-Assad harus memundurkan diri atau digulingkan paksa.
Tapi
apa yang tidak terduga bahwa hanya berselang beberapa hari dalam
operasi militer Rusia di Syria, sikap Arab Saudi melunak. Setelah Menlu
Rusia, Sergey Lavrov mengadakan pembicaraan tingkat tinggi dengan Arab
Saudi, ia mengadakan konferensi pers dimana ada mengatakan bahwa Rusia
dan Arab Saudi telah sepakat untuk kerjasama militer dan diplomatik saat
memerangi terorisme, dan kedua negara berdedikasi untuk mempromosikan
rekonsiliasi antara Syria, untuk memberlakukan suatu proses politik bagi
semua faksi dan level di Syria agar semua bisa mengambil bagian, dalam
waktu sesegera mungkin.
Untuk hal itu Arab Saudi akan terus
berkoordinasi dengan Rusia untuk menjamin persatuan nasional Syria,
dengan tegas dan teguh untuk menyelesaikan masalah Syria melalui jalur
politik.
Diplomasi Rusia Sementara Berada Diatas Angin
Bagi
Rusia, untuk tingkat tertentu, itu merupakan warming up hubungannya
dengan semua negara-negara di Timteng, yang bermanfaat bagi Rusia
dalam urusan timbal balik di sektor persaingan energi. Jadi operasi
militer Rusia di kawasan ini telah mengalami lebih dari sekedar
“penindasan” AS, tapi juga dapat tekanan dari negara-negara Arab. Dari
perspektif ini, strategi Rusia di Timteng tidak salah melakukan apapun
yang menyenangkan,
“The Christian Science Monitor” AS
melaporkan, pada 14 Oktober 2015, Putin menyelematkan Bashar al-Assad
sudah tidak diragukan lagi, dia terutama menggunakan intervensi militer
untuk mencapai tujuan besar itu. Sederhananya Putin ingin
memanfaatkanperbandingan dengan AS untuk membuat semua pihak melihat
bahwa Rusia lebih tegas, dan memberi pilihan untuk kawasan ini memilih
pasangan.
Nikolas Gvosdev seorang ahli untuk hubungan AS-Rusia
di AS (the US Naval War College) mengatakan, dengan menukik
menyelamatkan rezim yang terhuyung-huyung Mr. Putin menyatakan dengan
keras dan jelas bahwa gaya Amerika untuk merubah rezim tidak bisa
dipercaya.
Untuk sebagai perbandingan dengan Obama, Rusia
berusaha untuk memperlihatkan bahwa mereka lebih kuat dan lebih handal
dari kekuatan utama di Timteng. Putin mengatakan, “Washington tidak lagi
satu-satunya negara yang bisa menyelesaikan masalah.”
Setelah
Obama menjadi presiden AS, dia mengumumkan untuk menarik pasukan dari
Afganistan dan Irak, dan bersumpah untuk keluar dari Timteng. Tapi
dengan keluarnya AS menyebabkan kekuatan Timteng menjadi tidak seimbang
dan stabil, bahkan menjadi turbulen. Obama ingin cepat keluar tapi tidak
bisa karena terjebak dalam lumpur.
Ketika kekuatan ekstrimis
muncul berkembang, AS mulai menggunakan “kekuatan cerdik/smart
power”(ekstrimis) untuk mengeliminir pemerintahan yang selalu
bertentangan dengan AS, seperti pemerintahan Bashar al-Assad.
Tapi
dengan adanya intervensi Rusia saat ini, jelas telah mengacaukan
strategis yang sedang dibangun AS, dan membuat macet rencana
penguasaannya di Timteng.
Lalu banyak pengamat yang
mempertanyakan, eksisisteni AS akan bagaimana di Temteng kelak? Apa
artinya dan akibatnya bagi Timteng dengan macetnya rencana penguasaan AS
di Timteng?
( Bersambung ....... )
Sumber : Media TV dan Tulisan Dalam & Luar Negeri
http://www.nytimes.com/interactive/2015/09/30/world/middleeast/syria-control-map-isis-rebels-airstrikes.html?_r=0
http://www.aljazeera.com/news/2015/10/hundreds-killed-russian-air-strikes-syria-151029130146883.html
http://www.aljazeera.com/indepth/features/2015/10/russian-fears-syria-afghanistan-151027110248343.html
https://www.google.co.id/search?q=airstrikes+syria&espv=2&biw=1120&bih=668&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ved=0CDIQsARqFQoTCN6i2sOx6sgCFQuflAodtMgCaQ&dpr=1#imgrc=Orb4v6gxNmddXM%3A
http://internasional.kompas.com/read/2015/10/21/10003291/Cegah.Insiden.di.Suriah.AS.dan.Rusia.Teken.Nota.Kesepahaman?utm_source=news&utm_medium=bp&utm_campaign=related&
http://www.bbc.com/news/world-middle-east-34399164
http://www.kompasiana.com/makenyok/intervensi-rusia-dalam-anti-terorisme-di-syria-percaturan-as-di-timteng-berubah-2_56380ac2527a6143048b4567